Gimana Sih, Cara Membangun Villa di Bali?: FHM Ngobrol bareng Vanessa dari Samma Studio

“Kalau sudah tua, pengen deh punya villa di Bali.”


Siapa yang suka berandai begini ketika melamun? Saya yang tiap hari kerjaannya ngurusin villa-villa client juga sering mimpi gini sampai ngiler. Tapi, apa bener harus nunggu tua? Semahal dan seribet apa sih emang bangun villa di Bali dari nol?


Beberapa hari lalu saya makan siang bareng dengan teman baik saya Vanessa dari Samma Studio, dan sempat ngorek-ngorek dikit soal cara bangun villa kita sendiri di Bali. Where to start, really?

two girls talking

Vany Vanessa (VV), 27 tahun

Arsitek, Dog mom, Sudah membantu puluhan orang membangun villa impian di Bali.



Antria Pansy (AP), 27 tahun

Marketer, Dog auntie, Kepo Ingin bangun villa tapi kayaknya sih belum punya uang.



AP: Kalau mau bikin villa di Bali, apa sih step pertamanya? Of course selain ada duitnya….haha


VV: Yang paling pertama sih know what you want. Kenapa kamu mau bikin villa itu, alesane opo? Apa mau dibuat untuk tempat tinggal, mau disewakan lagi...atau mau dijual lagi? Tiap tujuan villa akan berpengaruh ke proses perencanaan, dan pastinya budget. Jadi step pertamanya: cari tahu tujuan kamu bikin villa itu apa, lalu baru direncanakan deh.


AP: I see...terus how much budget would someone need? Kayak...berapa sih harga tanah di Bali sekarang?


VV: Haha, ini nih ya yang paling penting. Untuk bangun villa di Bali, ada beberapa aspek nih yang harus dipersiapkan dan dipertimbangkan, coba kita list ya bun...


  • Harga tanah itu beda-beda di setiap daerah, jadi ya cario dewe kamu suka area yang mana. Kalau di area Canggu udah mahal karena favorit...Batu Bolong di tahun 2020 itu harganya sudah 1,1 Milyar per are (1 are: 100 m²). Ini yang masuk-masuk gang dan masih deket ke Raya Canggu, jauh dari pantai! Makin dekat pantai ya makin mahal lagi. Area Tumbak Bayuh lagi populer, di harga 600-750 juta per are. Lebih murah lagi daerah Seseh, masih bisa dapet di harga 400-600 juta per are.


  • Untuk bangunannya, standar villa sih range-nya di IDR 6-15 juta per m². 6 juta itu sudah harga yang paling umum, Villa Maitreya-nya FHM gitu harganya di sekitaran 6 juta per m². Villa yang lebih ke arah luxury alias mewwwah bisa di 9 juta per m², karena lebih tinggi specs dan tingkat kerapihannya. Kalau mau gandeng arsitek yang udah kondang, kalau di Bali misalnya proyeknya Pak Alexis Dornier, lumrahnya di IDR 15 juta per m². Tapi ya ada harga ada rupa bun, bagus banget pasti hasilnya.


  • Nah habis bangunan pasti isinya ya, jadi harga interior, biasanya kita hitung villa sebesar 150m² akan butuh sekitar 300 juta Rupiah untuk isi furniture. Jadi let’s say harganya ya...1,5-2,5 juta per m². Villa yang lebih megah bisa habis sampai 400 juta untuk isi interiornya. Balik lagi, semua menyesuaikan visi dan misi dari villa itu sendiri. Mau semewah apa? Semegah apa? Harganya ngikut deh…


  • Oh iya, yang suka kelupaan dihitung dalam konstruksi adalah Boundary Wall! Ini dinding yang mengelilingi villa-mu nanti biar ga jadi tontonan se-desa ya, hahaha. Harga Boundary Wall ini di 1 juta per m², dan kalau mau nambah kolam renang biar makin asik, siapin lagi 5 juta rupiah per m³ nya ya.


  • Apa lagi ya…? Oh, biaya pekerjaan landscape di 350-500 ribu rupiah per m² tergantung style design dan jenis tanaman yang dipilih. Ini proses dilakukan setelah pekerjaan konstruksi arsitektur selesai, ya.


  • Nanti setelah selesai semua, siapin duit lagi buat daftar IMB atau Ijin Mendirikan Bangunan. Lalu siapin juga untuk amprah listrik dan air...kalau ini harganya bener-bener tergantung areanya dan mau berapa watt juga listriknya.


  • That’s all I think…? Dan pastinya siapin budget tidak terduga untuk princilan-princilan yang nyaris pasti muncul ketika proses membangun.


AP: Mayan banyak ya bun pengeluaran dan prosesnya...Oh, tapi aku sering baca kalau di iklan jual tanah itu kadang ada yang jual as lease, ada yang hak milik. Lebih cengli yang mana sih?


VV: Hmm, Ini kembali lagi, villa ini nanti mau dipakai sendiri, dijual atau disewakan lagi? Kalau misal mau disewakan lagi sebagai Airbnb, biasanya sih orang lebih suka lease karena secara ROI lebih masuk akal.


Untuk lease banyak opsinya juga tergantung negosiasi sama pemilik tanah, ada yang lease 10 tahun, 15 tahun, 20 tahun….yang paling umum sih 20 tahun dan bisa diperpanjang 20 tahun lagi. Tapi kalau ini bener-bener case by case sih, nego aja yang kenceng sampai dapat the best deal!


Oh btw, kalau bule cuma bisa lease ya, ga bisa beli. Makanya banyak yang kawinin WNI terus beli tanah deh….


AP: Kok ga ada yang mau ngawinin aku sih biar bisa beli tanah?


VV: Hahaahahaha...soalnya tampangmu serem!


AP: Heh! Terus cara beli nya sama nggak sih antara lokal dan bule?


VV: Sama aja kok... yang bedain cuma tipe kepemilikannya. SHM (Surat Hak Milik) dan HGB (Hak Guna Bangunan). As I said, SHM cuma bisa buat lokal, bule gak bisa punya. Tapi kalo HGB, bule bisa punya juga.


AP: Tadi lo ada mention soal IMB, apa sih itu dan gimana cara dapetinnya?


VV: Before you build, you have to get a permit from the government. Nih wajib ya hukumnya, biar gampang ke depannya. The permit is called IMB (Izin Mendirikan Bangunan). Salah satu yang dibutuhkan buat daftar IMB adalah gambar kerja yang sudah sesuai dengan peraturan daerah. Ini bisa dikeluarin sama arsitek yang memiliki sertifikat dari IAI. Biayanya sekitar IDR 25.000 per m² untuk gambar kerja ini. Nah, tinggal submit deh gambar kerja ini dan syarat syarat lain! Lengkapnya bisa baca di sini nih


AP: Karena prosesnya ribet, how necessary is it to hire an architect / interior designer when building a villa? Apa beneran bisa membantu agar prosesnya lebih smooth dan less sakit kepala? Aku juga bisa kok desain villa sendiri, ngambil di Pinterest aja foto-fotonya ya kan...hahaha


VV: Ya bisa aja sih jalan sendiri nggak pakai arsitek or desainer, cuman nih ada quote bagus, “by failing to prepare, you are preparing to fail.” Mantep ngga tu?


Punya arsitek di team berarti ada orang yang profesional on your side selama proses planning dan konstruksi. Arsitek bisa bantu kasih opini professional yang tidak bias sehingga bisa sangat meminimalisir kesalahan dalam proyek.


Ketika mendesain, secara umum ada tiga faktor yang paling penting: Fungsi, Estetik, dan Budget. Misi dari tim arsitek adalah menyukseskan tiga faktor ini...jangan sampai fungsi dan estetiknya wow banget, tapi out of budget klien, kan. Bisa boncos. Jangan sampai juga dapat harga murce di bawah budget, eh, villanya pas musim hujan bocor semua!


Oh ya, jangan pernah malu sebut budget kalian ketika konsultasi, ya. Ini bakal sangat membantu tim arsitek buat bikinin planning yang sesuai dengan budget kalian. Gabakal dijudge kok...dijudge pun gabakal terang terangan, hahahaha, canda.



"Jangan pernah malu sebut budget kalian ketika konsultasi, ya. Ini bakal sangat membantu tim arsitek buat bikinin planning yang sesuai dengan budget kalian" - VV

AP: Iya juga, ada salah satu klien FHM yang pernah ketipu, bayar mahal banget eh ternyata spec material yang dikasih justru yang murah, ganti semua deh...


VV: Nah iya, punya tim arsitek juga bisa banget mencegah ketipu sama kontraktor! Paling sering tuh kasus ketipu spec ya, karena kebanyakan orang kan awam sama kualitas material, bahkan jenis-jenis material pun bisa ketipu. Bilangnya ini kayu mahal, eh ternyata triplek. Ini bisa banget kita hindari jadi klien ga rugi.


Intinya yang harus dipahami adalah arsitek itu on your side, visi misi kita sama, bikin villa bagus yang kokoh. Kalau villa-nya jelek juga porto kita jelek bun, gamau dong. Kita pasti akan mencoba menjaga kualitas tanpa draining your budget dan make sure semua berjalan sesuai dengan rencana awal.



Villa Nelayan by Samma Studio

AP: Biasanya klien kamu umur berapa sih, yang udah bikin-bikin villa?


VV: Range di 40-ish, tapi 35 ke atas uda ada. Polanya nih, kalo bunda bunda biasanya buat rumah tinggal, tapi paman paman biasanya untuk dijual lagi. Seems like they’re doing it professionally.


AP: Berarti kita kita yang masih 27 tahun ini belom bisa bikin villa wajar lah ya bun?


VV: Wajarlah, don’t be too hard on yourself! Semua indah pada waktunya, ceilah. Sekarang kerja keras aja dulu.


AP: Terakhir nih… any pro-tips for our readers who’s thinking about building?


VV: Hmm...yang pertama, do your research! Jangan FOMO temen-temen pada bikin villa terus langsung impulsif bikin, apalagi sampai pinjem pinjem uang tanpa kalkulasi. Semua harus di planning dengan baik yaaa..


Yang kedua, Hire the perfect team: arsitek/ desainer/ kontraktor. Ga semua arsitek / designer / contractor itu cocok sama kamu. Jadi mending ketemu banyak dulu dan cari yang sesuai sama selera kamu. Kalau desainer, cari yang style nya cocok. Kalo kontraktor, cari yang kerapihannya cocok. Tapi above all else, cari yang style komunikasi-nya cocok.


Yang ketiga...sabar bun! Everything in Bali takes time. Gak bisa nuntut serba cepet-cepet karena semua yang kerja di sini mau worklife balance, you know lah. Dan banyak hari libur juga, jadi emang harus sabar dan jangan terburu-buru, nanti stres sendiri.


Yang keempat, masih seputaran sabar sih, material di Bali itu benernya terbatas lho. Tidak semua tersedia, jadi kalo mau yang aneh aneh misalnya keramik motif, fabrics antik, hardware, lampu-lampu unik biasanya dikirim dari Jawa, jadi pasti takes time.


Jadi harus melatih kesabaran, sering sering meditasi atau breathwork, haha.


Yang terakhir, kita kan makhluk sosial ya. Apalagi di Bali, komunitas tuh tight-knit banget! Dari awal sudah harus jalin koneksi baik dengan tetangga dan otoritas setempat seperti banjar untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Kalau semua sayang sama kamu, pasti lebih gampang deh segala sesuatunya.


AP: Thanks Van, very helpful lhoo!


VV: Anytime! And you're paying for my lunch right?


AP: ...


_______________________________________________


Vany Vanessa is the co-founder of Samma Studio, an architecture and interior design practice that specializes in commercial and hospitality projects. Based in Bali, their studio is known for their distinctive tropical contemporary designs. For more information, check their website here